Suaranya merdu saat membacakan ayat-ayat suci Alquran. Suaranya lantang saat bercemarah. Belum lagi topi haji yang seakan tidak pernah lepas dari penampilannya. Begitulah ciri-ciri dari Ustad Jeffry Al Buchory, ustad muda yang kini tengah naik daun. Ustad Jeffry Al Buchory, ulama muda yang kini tengah naik daun itu pernah mengalami masa-masa kelam. Apa yang semua diraihnya kini memang suatu berkah dari Allah SWT.
Maklum, penceramah berkacamata ini kerap muncul di setiap program acara rohani Islam di sejumlah stasiun televisi nasional. "Saya biasa saja. Enggak terlalu dipikirin," ujar Ustad Jeffry dalam dialog dengan reporter SCTV Eva Yunizar, Rabu (2/11).
Penceramah yang kerap dipanggil Ustad Gaul ini memang tak menampik jika medium televisi membuatnya dikenal banyak orang. Bagi ayah dua orang anak ini, media elektronik itu sebagai salah satu sarana yang harus digandeng. Tapi, pemanfaatan dengan media televisi bukan untuk kepentingan pribadi. Tapi, untuk kemaslahatan umat. "Itu pentingnya memanfaatkan sesuatu," ujar pria kelahiran 33 tahun silam ini.
Ustad Jefrry mengakui, jika apa yang semua diraihnya kini memang suatu berkah dari Allah SWT. Maklum, ia telah melewati proses yang panjang dan berulang-ulang untuk bisa sampai seperti sekarang ini. Pasalnya, ia telah mengalami masa-masa Jahiliyah (kegelapan). Mulai dari kemaksiatan hingga kehidupan narkotik dan obat-obatan berbahaya. Ini semua dilakukannya saat masih menjadi artis. Saat itu, Ustad Jeffry memang mulai terkenal dari dunia akting. "Prosesnya panjang sekali," ujar Ustad Jeffry yang enggan bercerita banyak tentang masa lalunya.
Penceramah yang lebih suka dipanggil Uje--Ustad Jeffry--ini menuturkan, ia telah mengalami proses panjang ketika hidup tak normal. Mulai dari kontak fisik kejiwaan hingga membuat revolusi diri. Yang pasti, proses yang dialaminya saat itu adalah untuk membangkitkan sifat positif. Dan itu, itu sebuah perjuangan yang sangat dahsyat dan proses itu berulang berkali-kali. "Pengalaman itu guru yang baik," ujar Ustad Jeffry yang menikahi Pipik di Semarang, Jawa Tengah, pada 1999.
Menanggapi soal menjadi idola para remaja, Ustad Jeffry mengaku, hal itu terjadi mengingat segmen ceramahnya adalah kalangan remaja. Lagi pula, Ustad Jefrry mengaku, belum siap jika segmen ceramahnya adalah para orang tua. Ini dilakukan lantaran usianya juga belum teralu jauh dengan para remaja. Apalagi, ia juga tak mau dikatakan sebagai seorang ulama. Pasalnya, apa yang dilakukannya adalah bukan ceramah. Tapi, hanya sebagai ajang ngobrol atau sharing. "Maklum saya baru belajar," ujar Ustad Jeffry.
Ustad Jeffry juga mengakui, ketenarannya kini menjadi risiko tersendiri. Sejatinya, setiap tindak tanduknya menjadi perhatian orang banyak. Ini termasuk soal iklan sebuah suplemen kebugaran yang dibintanginya. Ustad Jeffry mengaku, banyak orang yang ditemuinya menanyakan atau menyayangkan jika keterlibatannya dalam sebuah iklan. Tapi, ia berpendapat, iklan yang dibintanginya itu sebenarnya bukan mempromosikan sebuah produk. Tapi, mengajak umat Islam untuk menjalankan puasa. "Berpuasalah kamu agar kamu jadi sehat. Itu bukan promosi produk," ujar Ustad Jeffry berkilah. Oh, begitu.(ORS/Liputan6.com)
Ajakan Jefri Al Buchori Untuk Merenung Kembali Makna Hidup
Kalau selama ini Ustadz Jefri Al Buchori dikenal sebagai Da’i muda, kini dengan vokalnya yang lantang, Jefry mencoba untuk berdakwah melalui alunan nada yang bertema religius.
“Lahir Kembali” menjadi tajuk dari album perdana Jefri. Sesuai dengan tajuknya, album ini berisi sepuluh lagu yang mewakili semangat reborn atau lahir kembali sebagai manusia yang memiliki fitrah sebagai hamba Allah yang sholeh.
Dalam album yang digarap Jefri selama 3 bulan, Da’i ganteng ini mengajak pendengar untuk merenung lebih dalam tentang makna hidup melalui lirik dan kekhasanya suaranya. Jefri pun melantunkan musiknya dengan unsur bernyanyi dan qiro’ah.
Semula Jefri sempat ragu akan terjunnya ke dunia musik dengan alasan takut dibilang komersialisasi dakwah. Tapi setelah berpikir ulang, muncul dalam hatinya bahwa berdakwah tidak harus dengan berceramah. “Berdakwah dengan bersenandung ternyata bisa mengugah hati seseorang. Dari situ akhirnya hati gue bisa mantap. Dan kata orang suara gue juga lumayan, ya udah akhirnya mengalir begitu aja,” kata Jefri saat peluncuran albumnya di Tee Box Café, Jumat lalu.
Tapi menurut Jefri, munculnya album ini lebih kepada bagaimana hidup kita ini bisa bermanfaat buat orang lain selain berceramah. Kebetulan kata Jefri, moment nuansa bulan puasa ini sangat pas untuk menggugah jiwa seseorang. “Kalau memang ada yang bilang komersialisasi dakwah biarlah karena pada diri manusia itu ada nilai minus dan plusnya,” tutur ustadz yang kebanjiran job di bulan puasa ini.
Jefri juga menepis kalo kehadirannya di dunia musik lantaran ingin disebut sebagai seorang selebritis. Bagi Jefri masa-masa seperti itu sudah pernah ia lewati beberapa tahun lalu. Bahkan teman nongkrong Gugun Gondrong ini sempat merasakan seni peran bersama teman-temannya. “Cuma tahun 90 sampai 97-an dunia hiburan tidak seramai sekarang,” ucapnya.
Malah lanjut Jefri, dirinya pada masa itu banyak melakukan hal-hal bodoh (Jahiliyah) yang merugikan dirinya. Bahkan Jefri sempat mengalami sakit yang nyaris menghilangkan akalnya. “Satu tahun setengah gue merasakan sakit seperti itu. Sampai akhirnya sakit gue itu membawa gue hijrah seperti sekarang ini,” ungkap Jefri yang tak mau menyebutkan sakitnya itu.
Dari perjalanan hidupnya itu, Jefri lalu membuat salah satu lagu dari dua lagu ciptaannya sendiri berjudul Istighfar. “Dari pengalaman pribadi gue ini menjadikan reborn atau lahir kembali hidup gue. Gue pengen lagu ini menjadi cermin yang tak hanya enak didengar di telinga tapi juga didengar di dalam hati pendengarnya,” harap Jefri.
Selain Istihgfar, Jefri juga menciptakan lagu berjudul Iqro yang mengingatkan kita untuk mengenal lebih jauh tentang sang pencipta. Sebagai single pertama Jefri memilih lagu Allah Maha yang isianya bahwa Allah itu maha pengampun dari manusia yang telah pernah bebuat dosa.
Simak pula lagu Sepohon Kayu, yang merupakan sebuah nasyid lawas yang pernah dipopulerkan oleh The Zikr. Selamat Hari Lebaran dan Yaa Rabbana kedua lagu ini dilantunkan secara trio oleh Opick dan AIJ, mengingatkan kita pada aransemen lagu-lagu operette lebaran papiko yang pernah ngetop di era 80-an.
Dengarkan Nasyid Jefry Al Buchory

Dengarkankan Wawancaranya di SCTV
URL : http://video.liputan6.com/files/progsus/vid/021105dwawancara.smil
